Jumat, 12 April 2013

Tenun Ikat dan Pakaian Adat Masyarakat Bajawa

Tenun ikat

Kegiatan tenun menenun nampaknya merupakan cirri khas dihampir setiap etnis masyarakat Nusa Tenggara Timur,termasuk masyarakat Bajawa. Kegiatan tenun dinamakan “Mane tenu/Seda tenu” yang dilakukan khusus oleh para wanita (kaum Ibu dan wanita muda/gadis).

tenun ikat

Seni tenunan ikat pada masyarakat Bajawa digolongkan sederhana dan belum berkembang secara baik dengan berbagai motif seperti kuda dan kaki ayam.

Kuda: sebagai kendaraan yang di gunakan setiap hari,
Kaki ayam:sebagai binatang sakti naga manu

Semua ini merupakan pengaruh kebudayaan Hinduisme.Seluruh tenunan dari Bajawa,memberikan kesan suram,tenang,sehingga warnanya gelap.

Tenunan untuk kaum wanita:
1. Hoba ragi mite : sarung berwarna hitam diselingi beberapa garis berwarna biru.
2. Hoba ragi woi sa wisa : sarung seluruh berwarna hitam diselingi warna merah.
3. Ragi woi toto pata : berwarna hitam dan di beri hiasan tertentu.
4. Lawo (sarung) butu
5. Lawo keto
6. Lawo wa‟i manu
7. Lawo biri
8. Lawo pisa

pakaian adat bajawa


Tenunan untuk kaum pria:
1. Boku : Mahkota bagi setiap laki-laki dewasa.
2. Lu‟e/sapu gajah : pakian laki-laki yang bernilai tinggi.
3. Lu‟e/sapu jara kedhi
4. Lu‟e kebo : berbentuk selendang berukuran kecil/sedang.
5. Sapu piri.

      Proses menghasilkan tenunan melangkahi satu rangkaian pekerjaan panjang dan memakan waktu lama. Menenun dimulai dari pengeluaran kapas tua yang setelah dijemur dan dipisahkan bijinya. Menenun di mulai dari mengikat rentangan benang di antara dua potongan bamboo,kemudian untuk motif,gambar bentuk tertentu diikat oleh kaum ibu dengan syarat-syarat tertentu. Hasil ikatan pada benang di celupkan dalam pewarna hitam,biru, merah tua dan dijemur sampai kering, sesudah pengerigan,direntangkan pada alat-alat tenun.


MOhon maaf jika ada kekeliruan dalam postingan. Terima Kasih sudah Membaca.
GBU

0 komentar:

Poskan Komentar

God Blessing .... !!! Tiada kesan tanpa meninggalkan Jejak ...!!!

KOmentar FACEBOOK