Kamis, 11 April 2013

Filosofi ADAT Kabupaten Ngada Bajawa

Filosofi ADAT Kabupaten Ngada Bajawa


1. Filosofi Ngadhu dan bhaga.


Dalam filosofi masyarakat Bajawa menyebutkan:

 "Mula ngadu tau tubo lizu,kabu wi rawe nitu, lobo wi soi dewa" 
 "mendirikan ngadu menjadi tiang penyangga langit dan akar mencengkram kuat kedalam bumi serta ujungnya menjulang mencapai Allah"

 Begitulah kewajiban setiap woe di Ngada (Bajawa), menegakan simbol kehadiran leluhur lelakinya yang demikian eratnya dibumi mesra bersama cucunya, walau hanya kenangan didalam setiap langkah kehidupan anak cucu turunannya, sekaligus sebagai perantara menemui sang ilahi. Bhaga dalam monumen, pengganti rupa dari leluhur pokok perempuan dari setiap woe di Ngada. Dengan demikian , ngadhu dan bhaga adalah monument pengganti rupa dari suami istri sebagaimana diungkapkan dalam bahasa budaya Ngada “Ngadhu he‟e bhaga wi radakisa nata” yang berarti ngadhu dan bhaga menaungi halaman kampung.

2. Filosofi kekudusan-kesucian para leluhur (Go Milo/Go zio milo).

      Pada hari kelahiran seorang anak,suatu tradisi si ibu dan si anak diperciki dengan air kelapa merah seraya menyebutkan ”dia wi zio milo rasi higa”, artinya "keadaan yang suci,kekudusan". Mereka dimandikan supaya menjadi bersih dan suci adanya.Acara ini diperintahkan dan diteguhkan dengan ajaran ”pui loka oja pe‟i tangi lewa dewawi dhoro dhega”, artinya tempat suci sebagai simbol hati nurani manusia yang berkenaan kepada sang ilahi atau leluhur. Hanya orang-orang tertentu yang boleh mengantarkan sembahan atau sesajian ketempat itu. Bila dikaitkan dengan keyakinan kristiani loka oja itu tidak saja tempat alamiah,tetapi juga simbol hati nurani manusia yang berkenaan pada Allah, agar menjadi tempat yang layak bagi Allah. Kewajiban menjaga kebersihan diri sudah diterapkan sejak dini, sejak usia memasuki kehidupan bermasyarakat terutama menjelang usia perkawinan. Kesucian, bersih diri, keperawanan hidup itu sudah diawasi dan dijaga sampai saat menjelang perkawinan.karena itu,perkawinan sudah dianggap sebagai suatu panggilan hidup. 

3. Filosofi wi pegi kage suli ngi’i

      Adalah ungkapan yang menunjukan tujuan dan hidup perkawinan trdisi itu, yakni keturunan,anak pengganti atau pelanjut peran orang tua. 

Maka kelahiran seorang diibaratkan seperti menanam atau menggantikan gigi,memasang tananam kembali gigi yang telah tak tumbuh lagi,dalam arti patah tumbuh hilang berganti,ada generasi penerusnya.

Perkawinan tradisi Ngada (Bajawa) bertujuan untuk saling mmembahagiakan antara suami dan istri dan memperoleh keturunan,anak patut dibanggakan dikenal dengan ”wi yie sama jora ngasa,wi kako sama manu jago”, artinya meringik seperti kuda jantan dan berkokok seperti ayam jantan kebanggaan yang berbicara penuh wibawa.
Asas dan dasar perkawinana tradisi diatas menjadi asas dan dasar hidup perkawinan orang Ngada (Bajawa) serta diterapkan melalui ajaran pokoknya, yakni “Sui Uwi”, kemudian itu menyangkut pula tata tertib hidup, tingkah laku serta pengembangan kehidupan sosial ekonomi dan gaya kepimimpinan tradisi Ngada (Bajawa).

GBU

0 komentar:

Poskan Komentar

God Blessing .... !!! Tiada kesan tanpa meninggalkan Jejak ...!!!

KOmentar FACEBOOK